Cerita Dewasa Sex Perawan, Cerita Dewasa Sex SMA, Cerita Dewasa Sex Gangbang, Cerita Dewasa Sex SPG, Cerita Dewasa Sex ABG,Cerita Dewasa Sex Model, Cerita Dewasa Sex Suster, Cerita Dewasa Sex Mahasiswa, Cerita Dewasa Sex Mahasiswi, Cerita Dewasa Sex Threesome, Cerita Dewasa Sex Pembantu, Cerita Dewasa Sex Tante Girang, Cerita Dewasa Sex Salon++, Cerita Dewasa Sex Lesbi, Cerita Dewasa Sex Gay, Foto Hot ABG Terbaru, Foto Hot Model Terbaru, Foto Hot Mahasiswi Terbaru, Foto Hot Tante Terbaru, Cerita Sex Terbaru 2018, Cerita Mesum terbaru 2018, Cerita Dewasa Terbaru 2018,

Cerita Sex Ridwan keponakanku

Posted on
Cerita Sex Ridwan keponakanku
Cerita Sex Ridwan keponakanku

 

Cerita Sex Ridwan keponakanku – Entah kenapa hari ini suasana hati saya sedang tidak menentu, rasanya mau marah-marah saja. Hampir semua staf di kantor kena damprat oleh saya. Lama-lama saya sadar dan merasa tidak enak kepada mereka.
Seorang pemuda ganteng tersenyum pada saya, membuat saya salah tingkah. Saat saya nafsu, tiba-tiba dia menghilang. Kurang ajar. Keinginan sex saya memang sering kali tidak mampu saya bendung. Padahal pekerjaan saya benar-benar masih menumpuk. Di rumah rasanya saya masih ingin marah saja, tapi tak mungkin saya marah pada kucing kesayangan saya. Dalam usia saya yang 33 tahun, sejak saya berpisah dari pacar saya Ricky setahun lalu, saya memang tidak mau jatuh cinta lagi. Saya takut kalau akan terjadi perpisahan lagi seperti sebelumnya.
Tiba-tiba keponakan saya masuk ke rumah. Dia masih memakai pakaian basket dengan tubuh yang mesih penuh dengan keringat. Dia adalah satu-satunya yang bisa menghibur saya dalam kesendirian saya. Di rumah bagus milik saya ini tidak ada siapa-siapa kecuali keponakan saya dan seorang pembantu yang pulang setiap jan 5 sore setelah saya sampa di rumah. Keponakan saya ini bernama Ridwan, dia adalah anak dari kakak kandung saya.
“Heh… Di lap dulu keringatnya, terus mandi, sana…” kata saya.
Ridwan yang berusia 15 tahun itu langsung membuka kaos basketnya. Saya lihat tubuhnya cukup bagus untuk anak seusianya. Entah kenapa, tiba-tiba saya menjadi nafsu padanya. Ah… saya mengusir nafsu saya. Tetapi semakin kuat saya mengusirnya, nafsu gila saya malah semakin menjadi-jadi. Saya mengambil handuk, lalu mengelap tubuhnya. Mulai dari wajahnya, lalu turun, sampai sekujur tubuhnya. Saya turunkan celana olahraga yang dipakainya, hingga tinggal hanya kolor saja yang tertinggal di tubuhnya.
Setelah saya yakin tubuhnya bersih dari keringat yang sudah kering, saya beri dia minum.
“Ayo mandi. Keringatmu sudah kering,” kata saya.
“Sudah lama tante enggak mandiin aku. Mandiin dong…” katanya manja sekali.
Saya mencubit hidungnya, lalu saya ajak dia ke kamar mandi. Saya menghidupkan shower. Air hangat memancur dari shower. Saya jadi ikut basah terkena siraman air.
“Udah, tante ikutan mandi juga ah…” kata saya sembari melepas semua pakaian saya.
Sekarang saya sudah telanjang bulat di hadapan Ridwan.
“Udah… biar mandinya enak, buka aja kolor kamu” perintah saya.
Ridwan menuruti perintah saya dan langsung membuka kolornya, hingga kami berdua benar-benar telanjang bulat. Saya lihat, Ridwan sesekali mencuri pandang ke arah vagina saya. Saya membiarkan saja lirikannya. Saya juga semakin nafsu melihat tubuh Ridwan. Saya sabuni tubuh saya, lalu menyabuni sekujur tubuh Ridwan. Dalam keadaan kedua tubuh kami berlumuran sabun, saya memeluk Ridwan, sembari mengosok-gosok pungungnya. Gesekan tubuh Ridwan pada tubuh saya, terlebih pada payudara saya, membuat saya tidak tahan untuk menahan nafsu.
“Kamu isap-isap dong tetek tante” kata saya.
Ridwan mengarahkan mulutnya ke payudara saya. Saya merasakan nikmat ketika Ridwan mengisap pentil saya. Tangan saya pun tidak tinggal diam, saya elus-elus penisnya yang mulai mengeras. Begitu cepatnya. Di bawah shower, langsung saya isap penisnya yang sudah membesar. Ukurannya biasa saja, mengingat dia masih berusia 15 tahun. Saat Ridwan mulai mau mengejang, langsung saya hentikan isapan saya pada penisnya. Saya mengarahkan shower ke tubuh kami. Setelah semua sabun hilang dari tubuh kami, saya mengeringkan tubuh Ridwan dan tubuh saya. Saya melihat kekecewaan wajah Ridwan. Saya tau, dia hampir saja orgasme.
Dengan masih bertelanjang bulat, kami berdua melangkah menuju ke kamar saya. Sampai di kamar, saya langsung berjongkok di hadapannya lalu mengisap penisnya. Tak lama, penis itu kembali mengeras. Perlahan saya giring Ridwan ke tempat tidur, lalu saya rebahkan tubuhnya di atas kasur. Saya naik ke atas tubuhnya, saya arahkan penis Ridwan memasuki lubang vagina saya. Setelah penisnya semuanya amblas dalam vagina saya, saya mengarahkan payudara saya ke mulutnya. Refleks Ridwan mengisap puting saya. Saya menggoyang pinggul saya perlahan-lahan, menarik dan mencucukkan vagina saya. Ridwan memeluk erat saya. Saya juga sudah tak mampu menahan orgasme saya, karena sejak pagi saya sudah sangat bernafsu. Saya tekan tubuhnya semakin kuat, hingga semua penis Ridwan berada dalam vagina saya.
“Taantteeee… aaahh…” Ridwan mendesah.
Saya tahu dia akan orgasme. Saya menggoyangkan pinggul saya dengan lebih cepat lagi untuk mengimbanginya, agar saya tidak kehilangan waktu. Jika Ridwan lebih dulu orgasme, penisnya akan cepat mengecil, dan saya akan kehilangan kesempatan untuk orgasme. Saat saya benar-benar mau orgasme, saya merasakan siraman hangat sperma Ridwan dalam rahim saya. Saya semakin mempercepat gerakan pingul saya. Untung saya sempat orgasme.
Desah nafas Ridwan benar-benar memburu. Saya elus-elus kepalanya dengan lembut. Saya tarik selimut, untuk menutupi kedua tubuh kami.
Pukul 9 malam kami terbangun.
“Ayo, kita bangun. Kita makan malam dulu” kata saya.
Dengan malas, Ridwan bangun. Saya pakaikan dia kaos dan celana pendek. Sedangkan saya memakai daster mini tanpa pakaian dalam.Lalu kami menuju meja makan. Di sana terhidang makanan yang dimasak pembantu sore tadi. Usai makan, kami sempat menonton TV dan Ridwan langsung minta tidur. Saya tersenyum. Ridwan telah menjadi anak dewasa, bisik hati saya.
Esoknya sepulang kerja, saya lihat Ridwan menyambut saya. Dia datang menghampiri saya dan membawakan tas saya. Saya menyerahkan sekeping CD.
“Nanti kita tonton bareng ya” kata saya.
Saya langsung mandi, hingga saya tidak tahu kalau pembantu sudah pulang ke rumahnya. Usai makan malam Ridwan meminta agar CD yang saya bawa tadi diputar. Saya memutar CD itu, Ridwan tertegun melihat adegan-adegan dalam CD biru itu. Berbagai adegan sex kami tonton bersama. Usai menonton CD, saya meraba penis Ridwan yang sudah mengeras.
“Bagaimana, sudah siap? Malam ini kita akan praktek, seperti yang kita tondon di CD itu” kata saya.
Ridwan diam saja. Saya tersenyum. Saya tuntun dia memasuki kamar saya. Saya buka pakaiannya dan pakaian saya juga. Saya telentang di atas kasur. Saya buka lebar-lebar kedua paha saya. Ridwan sudah mengerti apa yang saya mau, seperti apa yang kami tonton dalam CD tadi. Dia mendekatkan mulutnya ke vagina saya dan mulai menjilati klitoris saya. Aaah… nikmat sekali. Malam itu kami bersetubuh lagi, setelah beberapa adegan saya ajarkan kepada Ridwan. Berselang tiga hari, Ridwan mendatangi saya.
“Tante, mau lagi ah…” katanya manja.
Saya mengerti maksudnya. Sejak saat itu, dua kali dalam seminggu kami selalu melakukannya. Terutama pada masa-masa tidak subur. Saya selalu menghitung masa subur saya dengan telaten. Jika hari-hari tertentu masa subur, Ridwan saya wajibkan memakai kondom. Saya tidak mau hamil.
Cerita sex 2018, cerita sex terbaru, cerita sex terupdate, cerita sex, cerita seks 2018, cerita seks terupdate, cerita seks terbaru, cerita seks, cerita dewasa 2018, cerita dewasa terupdate, cerita dewasa terbaru, cerita dewasa, cerita mesum 2018, cerita mesum terupdate, cerita mesum terbaru, cerita mesum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *