Cerita Dewasa Sex Perawan, Cerita Dewasa Sex SMA, Cerita Dewasa Sex Gangbang, Cerita Dewasa Sex SPG, Cerita Dewasa Sex ABG,Cerita Dewasa Sex Model, Cerita Dewasa Sex Suster, Cerita Dewasa Sex Mahasiswa, Cerita Dewasa Sex Mahasiswi, Cerita Dewasa Sex Threesome, Cerita Dewasa Sex Pembantu, Cerita Dewasa Sex Tante Girang, Cerita Dewasa Sex Salon++, Cerita Dewasa Sex Lesbi, Cerita Dewasa Sex Gay, Foto Hot ABG Terbaru, Foto Hot Model Terbaru, Foto Hot Mahasiswi Terbaru, Foto Hot Tante Terbaru, Cerita Sex Terbaru 2018, Cerita Mesum terbaru 2018, Cerita Dewasa Terbaru 2018,

Cerita Sex Ruang Kosong di Kampus

Posted on
Cerita Sex Ruang Kosong di Kampus
Cerita Sex Ruang Kosong di Kampus

 

Cerita Sex Ruang Kosong di Kampus – Sore itu saya baru pulang dari rumah teman saya. Karena perjalanan pulang melewati kampus saya, maka sekalian saya menyempatkan diri untuk mampir ke sana dengan tujuan melihat nilai UTS saya dan mencatat jadwal SP (Semester Pendek). Saya masuki halaman kampus dan saya parkirkan sepeda motor saya. Saat itu waktu telah menunjukkan jam 17.05, di tempat parkir pun hanya terlihat 3-4 kendaraan. Saya segera memasuki gedung fakultas saya, di sana lorong-lorong sudah gelap hanya diterangi beberapa lampu downlight, sehingga suasananya remang-remang, terkadang timbul perasaan ngeri di gedung tua itu sepertinya hanya saya sendirian, bahkan suara langkah kaki saya menaiki tangga pun menggema. Akhirnya sampai juga saya di tingkat 4 dimana pengumuman hasil ujian dan jadwal SP dipasang.
Ketika saya sedang melihat hasil UTS saya dari lantai bawah sekonyong-konyomg terdengar langkah pelan yang menuju ke sini. Sadar atau tidak saya rasakan bulu kuduk saya berdiri dan membayangkan makhluk apa yang nantinya akan muncul. Ah konyol, saya buang pikiran itu jauh-jauh, hantu mana mungkin terdengar bunyi langkahnya. Suara langkah itu makin mendekat dan akhirnya saya lihat sosoknya, oohh, ternyata lain dari yang saya bayangkan, yang muncul ternyata seorang gadis cantik. Saya pun mengenalnya walaupun tidak kenal dekat, dia adalah mahasiswi yang pernah sekelas dengan saya dalam salah satu mata kuliah, namanya Yani, orangnya tinggi langsing, pahanya jenjang dan mulus, buah dadanya pun membusung indah, saya perkirakan ukurannya 34B, dipercantik dengan rambut panjang kemerahan yang dikuncir ke belakang dan wajah oval yang putih mulus. Dia juga termasuk salah satu bunga kampus.
“Hai.. sore, mau lihat nilai ya?” tanyaku berbasa-basi.
“Iya, kamu juga ya?” jawabnya dengan tersenyum manis.
Saya lalu meneruskan mencatat jadwal SP, sementara dia sedang mencari-cari NRP dan melihat hasil ujiannya.
“Sori, boleh pinjam bolpoin dan kertas? gua mau catat jadwal nih” tanyanya.
“Ooo, boleh, boleh gua juga udah selesai kok” saya lalu memberikannya secarik kertas dan bolpoin saya.
“Eh, omong-omong kamu kok baru datang sekarang malam-malam gini, nggak takut gedungnya udah gelap gini?” tanyaku.
“Iya, sekalian lewat aja kok, jadi mampir ke sini, kamu sendiri juga kok datang jam segini?”
“Sama nih, gua juga baru pulang dari teman dan lewat sini, jadi biar sekali jalan lah”
Kami pun mulai mengobrol, dan obrolan kami makin melebar dan semakin akrab. Hingga kini belum ada seorang pun yang terlihat di tempat kami sehingga mulai timbul pikiran kotor saya terlebih lagi hanya ada sepasang pria dan wanita dalam tempat remang-remang. Saya mulai merasakan senjata saya menggeliat dan mengeras. Saya pandangi wajah cantiknya, wajah kami saling menatap dan tanpa sadar wajah saya makin mendekati wajahnya. Ketika semakin dekat tiba-tiba wajahnya maju menyambut saya sehingga bibir kami sekarang saling berpagutan. Tangan saya pun mulai melingkari pinggangnya yang ramping. Sekarang mulutnya mulai membuka dan lidah kami saling beradu, rupanya dia cukup ahli juga dalam berciuman, nampaknya ini bukan pertama kalinya dia melakukannya. Wangi parfum dan desah nafasnya yang sudah tidak beraturan meningkatkan gairah saya untuk berbuat lebih jauh, tangan saya kini mulai turun meremas-remas pantatnya yang montok dan berisi, dia juga membalasnya dengan melepas kancing kemeja saya satu persatu. Tiba-tiba saya sadar sedang di tempat yang salah, segera saya lepas ciuman saya.
“Jangan di sini, gua tau tempat aman, ayo ikut gua!”
Saya ajak dia ke lantai 3, kami menelusuri koridor yang remang-remang itu menuju ke sebuah ruangan kosong bekas ruangan mahasiswa pecinta alam, sejak team pecinta alam pindah ke ruang lain yang lebih besar ruangan ini dikosongkan hanya untuk menyimpan peralatan bekas dan sering tidak dikunci. Saya buka pintu dan saya tekan saklar di tembok, ruangan itu hampir tidak ada apa-apa, hanya sebuah meja dan kursi kayu jati yang sandarannya sudah bengkok, beberapa perkakas usang, dan sebuah matras bekas yang berlubang.
Segera setelah tombol kunci saya tekan, saya dekap tubuhnya yang sedang bersandar di tepi meja. Sambil berciuman tangan kami saling melucuti pakaian masing-masing. Setelah saya lepas tank top dan branya, saya lihat tubuh putih mulus dengan payudara kencang dan putingnya yang kemerahan. Saat itu saya dan dia sudah topless tinggal memakai celana panjang saja. Saya arahkan mulut saya ke dada kanannya sementara tangan saya melepas kancing celananya lalu mulai menyusup ke balik celana itu. Saya rasakan kemaluannya yang ditumbuhi bulu-bulu halus dan sudah becek oleh cairan kenikmatan. Puting yang sudah menegang itu saya sapu dengan permukaan kasar lidah saya hingga dia menggelinjang-gelinjang disertai desahan. Dengan jari telunjuk dan jari manis saya renggangkan bibir kemaluannya dan jari tengah saya saya mainkan di bibir dan dalam lubang itu membuat desahannya bertambah hebat sambil menarik-narik rambut saya.
Akhirnya dengan perlahan-lahan saya turunkan celana beserta celana dalamnya hingga lepas. Saya buka resleting celana saya lalu saya turunkan CD- saya sehingga menyembullah senjata yang dari tadi sudah mengeras itu. Tangannya turut membimbing senjata saya memasuki liang vaginanya, setelah masuk sebagian saya sentakkan badan saya ke depan sehingga dia menjerit kecil. Saya mulai menggerakkan badan saya maju mundur, semakin lama frekuensinya semakin cepat sehingga dia mengerang-erang keenakan, tangan saya sibuk meremas-remas payudara montoknya, dan lidah saya menjilati leher dan telinganya. Saya terus mendesaknya dengan dorongan-dorongan badan saya, hingga akhirnya saya merasakan tangannya yang melingkari leher saya makin erat serta jepitan kedua pahanya mengencang. Saat itu gerakan saya makin saya percepat, erangannya pun bertambah dahsyat sampai diakhiri dengan jeritan kecil, bersamaan dengan itu saya rasakan pula cairan hangat menyelubungi senjata saya dan sperma saya mulai mengalir di dalam rahimnya. Kami menikmati klimaks pertama ini dengan saling berpelukan dan bercumbu mesra.
Tiba-tihba terdengar suara kunci dibuka dan gagang pintu diputar, pintu pun terbuka, ternyata yang masuk adalah Pak Alif, kepala karyawan gedung ini yang juga memegang kunci ruangan, orangnya berumur 50-an keatas, rambutnya sudah agak beruban, namun badannya masih gagah. Kami kaget karena kehadirannya, saya segera menaikkan celana saya yang sudah merosot, Yani berlindung di belakang badan saya untuk menutupi tubuh telanjangnya.
“Wah, wah, wah saya pikir ada maling di sini, eh.. ternyata ada sepasang kekasih lagi berasyik ria!” katanya sambil berkacak pinggang.
“Maaf Pak, kita memang salah, tolong Pak jangan bilang sama siapa-siapa tentang hal ini,” kata saya terbata-bata.
“Hmmm… baik saya pasti akan jaga rahasia ini kok, asal…”
“Asal apa Pak?” tanyaku.
Orang tua itu menutup pintu dan berjalan mendekati kami.
“Asal saya boleh ikut merasakan si Mbak ini, he.. he… he…!” katanya sambil terus mendekati kami dengan senyum mengerikan.
“Jangan, Pak, jangan!”
Dengan wajah pucat Yani berjalan mundur sambil menutupi dada dan kemaluannya untuk menghindar, namun dia terdesak di sudut ruangan. Kesempatan itu segera dipakai Pak Alif untuk mendekap tubuh Yani. Dia langsung memegangi kedua pergelangan tangan Yani dan mengangkatnya ke atas.
“Ahh.. jangan gitu Pak, lepasin saya atau… eeemmmhhh…!”
Belum sempat Yani melanjutkan perkataannya, Pak Alif sudah melumat bibirnya dengan ganas. Sekarang Yani sudah mulai berhenti meronta sehingga tangan Pak Alif sudah mulai melepaskan pegangannya dan perlahan-lahan mulai turun ke payudara kanan Yani lalu meremas-remasnya dengan gemas. Entah mengapa dari tadi saya hanya diam saja tanpa berbuat apa-apa selain bengong menonton adegan panas itu, sangat kontras nampaknya Yani yang berparas cantik itu sedang digerayangi oleh Pak Alif yang tua dan bopengan itu, seperti beauty and the beast saja, dalam hati berkata, “Dasar bandot tua, sudah ganggu acara orang masih minta bagian pula.”
Ciuman Pak Alif pada bibir Yani kini mulai merambat turun ke lehernya, dijilatinya leher jenjang Yani kemudian dia mulai menciumi payudara Yani sambil tangannya mengobok-obok liang vagina Yani. Diperlakukan seperti itu Yani sudah tidak bisa apa-apa lagi, hanya pasrah sambil mendesah-desah,
“Pak… aaakhh.. jangan.. eeemmhh… sudah Pak!”
Setelah puas “menyusu” Pak Alif mulai menjelajahi tubuh bagian bawah Yani dengan jilatan dan ciumannya. Setelah mengambil posisi berjongkok Pak Alif mengaitkan kaki kanan Yani di bahunya dan mengarahkan mulutnya untuk mencium kemaluan yang sudah basah itu sambil sesekali menusukan jarinya. Sementara Pak Alif mengerjai bagian bawah, saya melumat bibirnya dan meremas buah dadanya yang montok itu, putingnya yang sudah tegang itu saya pencet dan saya puntir.
Masih tampak jelas warna kemerahan bekas gigitan dan sisa-sisa ludah pada payudara kirinya yang tadi menjadi bulan-bulanan Pak Alif. Tak lama kemudian saya rasakan dia mencengkram lengan saya dengan keras dan nafasnya makin memburu, ciumannya pun makin dalam. Rupanya dia mencapai orgasme karena oral seks-nya Pak Alif dan saya lihat Pak Alif juga sedang asyik menghisap cairan yang keluar dari liang senggamanya sehingga membuat tubuh Yani menegang beberapa saat dan dari mulutnya terdengar erangan-erangan yang terhambat oleh ciuman saya. Sekarang saya membuat posisi Yani menungging di matras yang saya gelar di lantai. Saya setubuhi dia dari belakang, sambil meremas-remas pantat dan payudaranya. Pak Alif melepaskan pakaiannya hingga bugil, kemudian dia berlutut di depan wajah Yani. Tanpa diperintah Yani segera meraih penis yang besar dan hitam itu, mula-mula dijilatinya benda itu, dikulumnya buah pelir itu sejenak lalu dimasukkannya benda itu ke mulutnya. Pak Alif mendengus dan merem melek kenikmatan oleh kuluman Yani, dia menjejali penis itu hingga masuk seluruhnya ke mulut Yani.
Yani pun agak kewalahan diserang dari 2 arah seperti ini. Beberapa saat kemudian Pak Alif mengeluarkan geraman panjang, dia menahan kepala Yani yang ingin mengeluarkan penisnya dari mulutnya, sementara saya makin mempercepat goyangan saya dari belakang. Tubuh Yani mulai bergetar hebat karena sodokan-sodokan saya dan juga karena Pak Alif yang sudah klimaks menahan kepalanya dan menyeburkan spermanya di dalam mulut Yani, sangat banyak sperma Pak Alif yang tercurah sampai cairan putih itu meluap keluar membasahi bibirnya, jeritan klimaks Yani tersumbat oleh penis Pak Alif yang cukup besar sehingga dari mulutnya hanya terdengar, “Emmpphh.. mmm.. hmmpphh…” tangannya menggapai-gapai, dan matanya terbeliak-beliak nikmat.
Kemudian Pak Alif melepas penisnya dari mulut Yani, lalu dia berbaring telentang dan menyuruh Yani memasukkan penis yang berdiri kokoh itu ke dalam vaginanya. Sesuai perintah Pak Alif, dia menduduki dan memasukkan penis Pak Alif, ekspresi kesakitan nampak pada wajahnya karena penis Pak Alif yang besar tidak mudah memasuki liang vaginanya yang masih sempit, Pak Alif meremas-remas susu Yani yang sedang bergoyang di atas penisnya itu. Saya lalu memintanya untuk membersihkan barang saya yang sudah belepotan sperma dan cairan kemaluannya, ketika penis saya sedang dijilati dan dikulum olehnya, saya tarik ikat rambutnya hingga rambutnya tergerai bebas.
“Wah cantik banget si Mbak ini, mana memeknya masih sempit lagi, benar-benar beruntung saya malam ini,” kata Pak Alif memuji Yani.
“Dasar muka nanas, kalo dia pacar gua udah gua hajar lo dari tadi!” gerutu saya dalam hati.
Setelah penis saya dibersihkan Yani, saya atur posisinya tengkurap di atas Pak Alif, dan saya masukkan penis saya ke duburnya, sungguh sempit liang anusnya itu hingga dia menjerit histeris ketika saya berhasil menancapkan penis saya di sana. Kami bertiga lalu mengatur gerakan agar dapat serasi antara penis Pak Alif di vaginanya dan penis saya di anusnya. Saya menghujam-hujamkan penis saya dengan ganas sambil meremas-remas payudara dan pantatnya juga sesekali saya jilati lehernya. Sementara Pak Alif juga aktif memainkan payudara yang hanya beberapa sentimeter dari wajahnya itu. Tak lama kemudian Yani menjerit keras, “Akkhh…!” tubuhnya menegang dan tersentak-sentak lalu terkulai lemah menelungkup, begitu tubuhnya rebah langsung disambut Pak Alif dengan kuluman di bibirnya. Saya dan Pak Alif melepas penis kami dan berdiri di depan Yani secara bergantian dia mengulum dan mengocok penis kami hingga sperma kami muncrat membasahi wajahnya.
Tubuh kami bertiga sudah bersimbah keringat dan benar-benar lelah, terutama Yani, dia nampak sangat kelelahan setelah melayani 2 lelaki sekaligus. Sesudah beristirahat sejenak, kami berpakaian kembali. Kami membuat kesepakatan dengan Pak Alif untuk saling menjaga rahasia ini, Pak Alif pun menyetujuinya dengan syarat Yani mau melayaninya sekali lagi kapanpun bila dipanggil, meskipun mulanya dia agak ragu-ragu akhirnya disetujuinya juga. Kami yakin dia tidak berani kelewatan karena dia juga tidak ingin hal ini diketahui keluarganya. Sejak itu kami semakin akrab dan sering melakukan perbuatan itu lagi meskipun tidak sampai pacaran, karena kami sudah punya pacar masing-masing.
Cerita sex 2018, cerita sex terbaru, cerita sex terupdate, cerita sex, cerita seks 2018, cerita seks terupdate, cerita seks terbaru, cerita seks, cerita dewasa 2018, cerita dewasa terupdate, cerita dewasa terbaru, cerita dewasa, cerita mesum 2018, cerita mesum terupdate, cerita mesum terbaru, cerita mesum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *