Cerita Dewasa Sex Perawan, Cerita Dewasa Sex SMA, Cerita Dewasa Sex Gangbang, Cerita Dewasa Sex SPG, Cerita Dewasa Sex ABG,Cerita Dewasa Sex Model, Cerita Dewasa Sex Suster, Cerita Dewasa Sex Mahasiswa, Cerita Dewasa Sex Mahasiswi, Cerita Dewasa Sex Threesome, Cerita Dewasa Sex Pembantu, Cerita Dewasa Sex Tante Girang, Cerita Dewasa Sex Salon++, Cerita Dewasa Sex Lesbi, Cerita Dewasa Sex Gay, Foto Hot ABG Terbaru, Foto Hot Model Terbaru, Foto Hot Mahasiswi Terbaru, Foto Hot Tante Terbaru, Cerita Sex Terbaru 2018, Cerita Mesum terbaru 2018, Cerita Dewasa Terbaru 2018,

Cerita Sex Kehangatan Saat Hujan

Posted on
Cerita Sex Kehangatan Saat Hujan
Cerita Sex Kehangatan Saat Hujan

 

Cerita Sex Kehangatan Saat Hujan – Tak puas dengan satu tangan, penutup tubuh Sherly yang terakhir saya buka, Sherly membantu dengan mengangkat pinggulnya. Didepan saya terpampang lembah kewanitaan, rambut halusnya berwarna coklat kehitaman. Dengan ibu jari dan telunjuk saya buka lembah tersebut, terlihat bibir-bir berwarna merah muda. Kemudian tangan saya menyusuri bibir-bibir tersebut dengan kehalusan, Sherly hanya mendesah.
Tangan saya menelusuri bibir-bibir tersebut kemudian ke ciri kewanitaannya, tiap kali tangan saya menyentuh ciri kewanitaannya Sherly hanya menggeletar dan mendesah. Saya lakukan hal ini berulang-ulang bahkan saya gunakan kulit sepanjang lengan saya untuk menyusuri bibir tersebut sampai suatu saat Sherly menjadi liar, dia menarik kepala saya dan membenamkannya di lembah tersebut. Karena tangan saya tidak dapat digunakan sementara darah saya sudah menggelegak, saya menggunakan mulut dan lidah saya untuk menyusurinya. Ternyata Sherly semakin menggila sampai kemudian lembah kewanitaannya membanjir, saat itulah Sherly terdiam mengejang.
Saya tak tahan, saya lepaskan tangannya, saya lepaskan seluruh pakaian saya, kemudian saya peluk tubuhnya, saya rasakan kehangatan tubuhnya, saya tempelkan kejantanan saya melintang pada lembah tersebut. Saya dekap erat pinggulnya, tak lama kemudian saya rasakan getaran lembut tubuh Sherly. Saya kecup lembut bibirnya dan tangan saya mulai lagi menelusuri setiap lekuk liku tubuh Sherly. Sherly memeluk saya, dan mulai saya rasakan bibir-bibir lembah kewanitaan Sherly berdenyut-denyut memamah kejantanan saya. Saya diam sejenak untuk bernafas kemudian saya geser-geserkan batang kejantanan saya pada lembah kewanitaan Sherly, dia tergetar dan mulai turut menggerakkan pinggulnya.
Setelah beberapa kali, badan saya rasanya terbakar, maka saya angkat pinggang saya untuk memberi ruang dan saya arahkan kejantanan saya ke lembah kewanitaan Sherly. Saya kulum mulut Sherly kemudian tangan saya memegang batang kejantanan saya dan saya gesek-gesekkan pada lembah kewanitaannya. Mata Sherly hanya terpejam-pejam dan dari kerongkonganya terdengar suara yang tidak jelas. Akhirnya saya pegang batang kejantanan saya kemudian perlahan-lahan saya masukkan dalam gerbang kewanitaannya, ketika baru kepala kejantanan saya mulai masuk, Sherly hanya mendelikkan matanya seakan-akan sukmanya terbang entah kemana.
Tapi begitu saya desakkan untuk maju lagi, terasa oleh saya seakan ada suatu selaput yang menghambat gerak maju kejantanan saya. Saya diam sejenak, saya lepas bibir Sherly yang saya kulum, saya berkonsentrasi untuk maju mendesak rongga kewanitaannya. Saat saya mendesak maju dalam rongga kewanitaannya, Sherly menjerit lirih, kuku-kukunya menancap di punggung saya dan kakinya mengejang menahan sakit, hanya pelukannya pada saya semakin erat seakan tidak ingin melewatkan kenikmatan yang dirasakannya.
Saya rasakan kejantanan saya seakan menembus selaput dunia misteri, sukma saya melayang-layang, entah berapa lama. Saya sudah separuh sadar, saya sudah tak peduli lagi dengan jeritan dan erangan Sherly. Saat saya sadar kembali, saya terdiam, saya lihat lelehan air mata di sudut-sudut mata Sherly, baru kemudian saya sadar saat deflorasi ternyata memang sedikit sakit, walau ukuran kejantanan saya standar ukuran orang Indonesia. Ada perasaan bersalah, saya diam sejenak kemudian saya kecup matanya, saya sapukan bibir saya pada pipinya dan akhirnya saya kecup bibirnya, Sherly membuka matanya, saya peluk Sherly dengan segenap perasaan saya. Tapi saya masih ingin mengulangi lagi sensasi yang tadi saya rasakan, sehingga saya gerakkan lagi kejantanan saya perlahan-lahan, Sherly hanya merintih perlahan, namun setelah beberapa saat ia mulai mengikuti gerakan saya walau saya lihat Sherly masih sedikit menahan nyeri.
“Sherly, kenapa?” tanya saya.
“Entahlah, sakit tapi juga penuh sensasi,” jawabnya.
Saya dekap Sherly dengan kasih, seraya tetap melanjutkkan aktivitas saya. Tak tahu berapa lama tetapi kembali saya rasakan tubuh Sherly mulai bergetar, mula-mula perlahan makin lama makin keras. Saya pererat dekapan saya, tapi ia sudah tak terkendali, hanya rintihannya yang terdengar. Akhirnya ia menjeritkan nama saya dan saya rasakan rongga kewanitaannya mulai berkontraksi tak henti-henti, kukunya mencengkeram pungung saya dan saya rasakan kejantanan saya seperti dipijit-pijit.
Saya tak tahan, saya percepat gerakan saya. Akhirnya kejantanan saya luluh oleh kelembutan kewanitaannya. Kami sama-sama terdiam dalam dekapan masing-masing. Saat itulah pertama kali saya rasakan sensasi pada kejantanan saya, sensasi yang tidak dapat terkatakan dengan kata-kata. Sherly terbaring lemas, saya juga lemas tapi kejantanan saya belum sepenuhnya merunduk. Ketika saya menggerakkan badan saya untuk merenggangkan badan dengan Sherly, kejantanan saya mengeras kembali. Ternyata saya masih ingin kembali mengulangi sensasi tadi. Tapi saya kasihan melihat Sherly yang lemas.
“Sher, capek ya ?” tanya saya.
Ia hanya menganggukkan kepala. Saya renggangkan kaki-kakinya dan Sherly saya minta untuk mengangkang kemudian saya menggerakkan kaki saya melingkari pinggulnya seraya mengangkat badan Sherly. Akhirnya kami berpelukan dalam posisi duduk itu. Saya ambilkan botol air mineral dingin diatas rak kecil disisi tempat tidur.
“Sher minum dulu, ya,” kata saya lembut sambil menyodorkan botol tersebut. Sherly minum seperti orang digurun pasir menemukan air.
“Hei, minumnya pelan-pelan dong” kata saya.
Selesai minum Sherly tersenyum dan memberikan botol air mineral itu kepada saya. Baru saya rasakan betapa keringnya kerongkongan saya. Selagi saya minum, saya rasakan Sherly memeluk dan menjatuhkan badannya pada saya. Selesai minum kami berdua tetap diam sambil merapatkan badan. Beberapa saat kemudian saya elus punggung Sherly, lengannya, wajahnya serta bukit kewanitaannya. Sherly pun balas mengelus-elus punggung saya, wajah dan dada saya. Kemudian saya kecup seluruh wajah dan bukit kewanitaannya, akhirnya saya kulum puncak bukit kewanitaannya, Sherly hanya mengeluh lirih.
Ternyata kebersamaan dalam posisi seperti ini memberikan kesempatan bagi kami untuk saling berkasih mesra, bahkan setiap gerakan kecil menimbulkan listrik kecil pada kejantanan saya dan rongga kewanitaannya. Kami mengoyangkan badan sambil tetap berpelukan, rasanya seperti berdansa. Ya, memang kami berdansa dalam kasih sayang. Cukup lama kami berdansa, akhirnya saya katakan pada Sherly,
“Sher, kita daki lagi puncak kebersamaan, ya Sayang” kata saya sambil mengecup keningnya.
Sherly mengangguk dan mengecup bibir saya. Kemudian ia lembut mendorong badan saya tanpa melepaskan pelukannya. Ternyata sekarang Sherly yang memulai. Ia menggerak-gerakkan pinggulnya sambil tetap mengelus-gelus dada saya. Akhirnya ia mencapai puncaknya. Saya peluk Sherly dan saya gulingkan, sehingga sekarang saya yang aktif. Tak lama kemudian saya pun mencapai puncak. Kami beristirahat sebentar, saat kami menyudahi kebersamaan kami, saya kecup rongga kewanitaannya dan saya ucapkan terima kasih. Saat itu saya lihat jam, ternyata hampir 8 jam lamanya sejak kami pulang kerja. Kemudian kami pun saling membersihkan diri dan makan malam.
Selesai makan malam saya antar Sherly pulang hingga depan jalan masuk kerumahnya. Saya awasi dia sampai benar-benar masuk ke rumahnya. Sebelum masuk ia melambaikan tangan pada saya. Semenjak itu kami sering bersama. Sayangnya empat bulan kemudian saya pindah kerja dan tak berapa lama Sherly pindah kantor, sehingga kami tidak lagi dapat bertemu dan mengatur waktu untuk bersama lagi. Padahal saya masih mengenangnya.
Kejadian itu membekas dalam pada diri saya, sejak itu pula saya begitu menyukai gadis-gadis keturunan, mengagumi kehalusan kulitnya bahkan mungkin mendambakan mereka.
Cerita sex 2018, cerita sex terbaru, cerita sex terupdate, cerita sex, cerita seks 2018, cerita seks terupdate, cerita seks terbaru, cerita seks, cerita dewasa 2018, cerita dewasa terupdate, cerita dewasa terbaru, cerita dewasa, cerita mesum 2018, cerita mesum terupdate, cerita mesum terbaru, cerita mesum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *